Botswana Ancam Kirim 20.000 Gajah ke Jerman

 


Jakarta - Presiden Botswana mengancam akan mengirim 20.000 ekor gajah ke Jerman. Aksi ini imbas sebuah perselisihan mengenai konservasi.


Menyitir BBC, Jumat (5/4/2024), kementerian lingkungan hidup Jerman menyarankan agar ada batasan yang lebih ketat dalam mengimpor trofi dari hewan buruan awal tahun ini.

Presiden Botswana, Mokgweetsi Masisi, mengatakan kepada media Jerman bahwa hal ini hanya akan memiskinkan masyarakat di negaranya.

Ia mengatakan bahwa jumlah gajah telah meledak sebagai hasil dari upaya konservasi, dan perburuan membantu menjaga jumlah mereka tetap terkendali.

"Orang Jerman seharusnya hidup bersama dengan hewan-hewan itu, seperti yang Anda katakan. Ini bukan lelucon," kata Masisi kepada surat kabar Jerman, Bild.

Botswana adalah rumah bagi sekitar sepertiga populasi gajah dunia atau lebih dari 130.000 ekor. Itu lebih banyak dari ruang yang tersedia.

"Kawanan gajah menyebabkan kerusakan pada properti, memakan tanaman dan menginjak-injak penduduk," kata Masisi.

Botswana sebelumnya telah memberikan 8.000 gajah kepada negara tetangga Angola, dan telah menawarkan ratusan gajah lainnya kepada Mozambik, sebagai upaya untuk menurunkan populasi gajah.

"Kami ingin menawarkan hadiah seperti itu kepada Jerman," kata Masisi, seraya menambahkan bahwa ia tidak ingin menerima jawaban tidak.

Menteri Satwa Liar Botswana, Dumezweni Mthimkhulu, bulan lalu mengancam akan mengirim 10.000 gajah ke Hyde Park di London agar masyarakat Inggris dapat merasakan hidup bersama mereka.

Pada bulan Maret, anggota parlemen Inggris memilih untuk mendukung larangan mengimpor piala perburuan, tetapi undang-undang tersebut masih harus melalui proses pengawasan lebih lanjut sebelum disahkan.

Janji untuk melarang impor piala berburu telah dimasukkan dalam manifesto pemilihan umum 2019 dari Partai Konservatif.

Botswana dan negara-negara Afrika selatan lainnya menghasilkan banyak uang dari orang-orang kaya Barat yang membayar ribuan dolar untuk mendapatkan izin menembak hewan dan kemudian membawa pulang kepala atau kulitnya sebagai piala.

Mereka mengatakan bahwa uang ini digunakan untuk membantu upaya konservasi, dan masyarakat setempat, sehingga mereka cenderung tidak tergoda untuk memburu hewan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengakuan Wanita yang Sering Diintip Tetangga Kos Saat Mandi.

Modus Sopir Travel Perkosa Bunus Gadis di Lutim:Pura-Pura Buang Air Kecil

Mengapa Tidak Boleh Pakai Baju Hijau di Pantai Selatan? Ini Penjelasannya